Di sebuah tanjung terpencil, tempat karang tajam beradu dengan gelombang laut yang buas, berdiri sebuah mercusuar tua. Mercusuar itu menjulang tinggi, dicat putih dengan atap merah yang mulai pudar. Tak ada nama di peta yang mencatat tempat itu, kecuali satu titik kecil bertuliskan: *Penjaga Lampu*.
Orang yang tinggal di sana adalah seorang pria tua bernama Danu. Tidak banyak yang tahu siapa dia atau dari mana asalnya. Yang jelas, setiap malam, cahaya dari mercusuar itu tetap menyala, menembus kabut dan badai, seolah mengatakan: “Aku masih di sini. Kamu tidak sendiri.”
Danu hidup sendirian ditemani kucing belang tiga yang diberi nama Raka. Ia bangun sebelum fajar, mengecek lampu, mengisi bahan bakar, dan membersihkan lensa. Ia mencatat setiap badai yang lewat, setiap kapal yang melintas jauh di cakrawala, dan setiap bintang jatuh yang terlihat.
"Kalau lampu ini padam, mereka bisa hilang arah," katanya suatu malam pada Raka. "Dan tidak semua kapal tahu jalan pulang."
Setiap minggu, kapal kecil akan datang membawa persediaan: makanan kaleng, air bersih, buku, dan koran. Tapi pengantar barang tak pernah bicara banyak. Semua terasa seperti bagian dari dunia yang berjalan sendiri, tanpa ingin tahu terlalu dalam.
Yang tak diketahui banyak orang adalah bahwa lampu itu tidak hanya menuntun kapal. Lampu itu menjaga *perbatasan dunia*.
Di balik lautan luas, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh peta atau sains: *celah antara kenyataan dan mimpi*. Danu adalah penjaga celah itu. Setiap malam saat kabut turun dan suara laut berubah seperti bisikan, makhluk-makhluk dari dunia lain mencoba menyeberang—mereka yang tersesat, mereka yang lupa bahwa mereka telah pergi.
Danu tidak mengusir mereka. Ia menyalakan lampunya lebih terang, menuntun mereka kembali. Kadang ia melihat bayangan anak kecil dengan bola, wanita dengan payung rusak, atau pria dengan topi tinggi berdiri di karang, menatap lampu itu lalu perlahan memudar.
Namun, usia tidak bisa dilawan. Suatu hari, Danu jatuh sakit. Raka tetap setia, tidur di sampingnya. Tapi tubuh tua itu semakin lemah. Dengan sisa tenaganya, Danu menulis surat dan meninggalkannya di meja dekat jendela, lalu tidur panjang yang tak pernah ia bangun lagi.
Seminggu kemudian, kapal kecil datang. Mereka menemukan tubuh Danu yang tenang, seolah hanya tidur, dan lampu yang masih menyala.
Tapi yang mengejutkan: surat itu bukan hanya ditujukan untuk mereka, tapi untuk siapa pun yang membaca.
> *"Aku hanya penjaga. Tapi setiap dunia butuh penjaga. Jika kamu membaca ini, mungkin giliranmu tiba. Jangan biarkan lampunya padam. Dunia ini terlalu luas untuk dibiarkan gelap."*
Kini, mercusuar itu dijaga oleh seseorang yang baru. Tak pernah diketahui siapa yang pertama kali datang setelah Danu pergi. Tapi cahaya itu tetap menyala setiap malam. Dan di antara gemuruh ombak dan kabut tipis, suara Danu seakan masih bergema:
*"Kamu tidak sendiri."*
---

Comments
Post a Comment